Rabu, 26 Maret 2014

Farewell [?]

Teruntuk Rizal Nur Rahman yang dengan setia mendengarkanku .

Surat ini ku persiapkan untuk perpishan kita yang mungkin tak lama lagi . Sebentar lagi , entah besok , lusa , atau bahkan hari ini juga kita akan tak saling bertegur sapa . Bisa saja kita tak saling mengenang . Bisa juga kita tak akan saling merindu . Atau bisa pula nanti kita saling menangisi , menyesali , entah untuk alasan apa . Mungkin menangisi perpisahan tak diduga ini . Atau mungkin menyesali perkenalan kita dulu . 

Tapi hal terburuk yang ku takutkan , kamu kelak tak akan merasa pernah mengenalku . Aku tak akan meminta kamu mengingatku . Hanya saja aku berharap kamu tak akan lupa aku . Izinkan aku kelak tetap menjadi bagian kecil dari masalalu mu . Jika kamu tak bisa mengingatku sebagai teman mu , jangan lupakan aku sebagai orang yang merusak salahsatu lingkaran mu .

Minggu, 23 Maret 2014

23314 1643

Teruntuk 2 orang yang namanya kini memenuhi pikiranku .

Surat ini bukan lagi surat penuh pengharapan seperti kemarin . Surat ini berisi penyeslan mendalam yang tak mampu ku ungkap bagaimana pun caranya . Seperti kenyataan yang terjadi , nasi telah menjadi bubur . Dengan semua tingkahku yang entah pantasnya kalian sebut apa . Dengan kebodohanku yang merusak kepercayaan antara kalian . Aku menghancurkan kepercayaan yang kalian titipkan padaku .

Aku merajuk , memaksa masuk dalam lingkaran yang kalian miliki . Dan lalu di luar kendali ku , aku membinasakan semua . Tawa dan canda yang kalian jaga , ku hapuskan tanpa sisa . Panggil aku si pembawa musibah . Aku bukan hanya cobaan , aku memang musibah untuk ikatan yang kalian bentuk sejak lama .

Ingin ku tepati janji , berusaha semampuku memperbaiki keadaan . Nyatanya tanpa hasil . Mungkin usahaku yang memang kurang maksimal . Mungkin juga usahaku yang malah membuatnya semakin rumit .

Tampaknya semua pertanyaanku kemarin terjawab . Tapi sungguh aku bersumpah , bukan ini akhir yang kuinginkan . Bukan dengan airmata . Jika ada yang patut disalahkan , memang itu aku . Jika ada yang ingin di benci , memang seharusnya itu aku . Jika ada dendam tersimpan , tujukan itu padaku . Aku tak akan lari . Tak akan sembunyi . Tak akan membela diri .

Jika kali ini kalian tanya apa inginku , dengan tertunduk lesu aku akan bilang 'lupakan inginku kemarin . biarlah aku mengenang kalian . tapi tolong damailah kalian' . Abaikan saja keberadaan ku jika itu mampu membuat kalian merasa lebih baik . Lupakan saja tentangku jika itu mampu menentramkan kalian . Entah kata apa lagi yang harus ku ucap untuk mendamaikan kalian . Jika dengan hilangku mampu membuat kalian kembali seperti sebelumnya , maka usirlah aku . Paksa aku pergi demi mengembalikan senyum antara kalian .

Ini bukan surat perpisahan . Hanya sepercik curahan hati yang putus asa menghadapi kenyataan . Aku tak akan pamit . Belum akan pamit , hingga nanti mampu mempersatukan kalian lagi . Atau hingga nanti kalian dengan sepakat menyuruhku menjauh .

Sekali lagi maaf . Sungguh maaf untuk semua luka yang ku torehkan . Maaf , karena kalian masih harus bersabar menghadapi aku yang tak tau diri ini . Maaf , karena kalian pasti akan jenuh mendengar ribuan maaf yang ku ucapkan . Maaf .

22314 1544

Teruntuk 2 orang yang tiba-tiba mengisi hariku dan perlahan menyentuh hatiku .

Jika nanti kalian melihat ini , aku tau kalian pasti akan menyadari untuk siapa surat ini kutulis .

Kalian . Dengan semua tawa dan airmata yang kalian tawarkan . Dengan suka dan duka masalalu yang kalian bawa . Menyeretku masuk dalam lingkaran yang telah kalian miliki sejak lama .

Aku . Juga dengan tawa dan airmata yang kumiliki . Juga dengan suka dan duka masalalu yang kusimpan . Memaksa kalian masuk dalam ruang kelabu di hatiku .

Kita . Dengan semua kisah kelam juga penuh warna yang tertutup rapat di hati . Dengan hubungan rumit yang entah harus disebut apa . Saling melindungi hati . Saling mendustakan rasa .

Waktu berlalu . Hari berganti . Entah apa makna dibalik debaran jantung ini yang kerap kali tak menentu . Entah karena apa pilu sering terasa di hati . Entah untuk siapa senyum terus menghiasi hari . Hubungan ini terlihat semakin rumit . Tak jelas haluan nya kemana . Tak pasti nahkoda nya siapa .

Ada kamu yang memulai semua kisah rumit ini . Ada kamu yang ikut terbawa dalam arus tak jelas arah antara kami . Ada pula aku yang tanpa sadar mulai membuka hati . Kita tau pasti siapa yang memulai semua ini . Dia tentunya tau pasti kenapa memulai semua ini . Hanya saja mungkin tak terpikir olehnya semua ini mulai mempengaruhi hatiku . Juga pikiranku . Entah bagaimana dengan kalian .

Kini , tak lagi bisa kita tau siapa yang kelak mampu mengakhiri semua kerumitan ini . Tak bisa prediksi bagaimana hubungan ini nantinya . Mungkin aku jatuhcinta dengan satu di antara kalian . Mungkin satu dari kalian pun miliki rasa yang sama sepertiku . Mungkin kita menjadi teman tak terpisahkan . Tapi juga mungkin aku kembali menjadi orang yang seakan tak pernah memasuki lingkaran kalian .

Jika kalian tanya aku , apa inginku . Aku pasti menjawab ingin terus mengenal kalian , bukan hanya mengenang . Izinkan aku terus menjadi bagian dalam lingkaran yang kalian buat . Dalam ikatan yang kalian miliki .

Sebelum terlambat . Sebelum tak bisa lagi bertegur sapa . Aku ingin mengucap terimakasih untuk segala hal yang tak mampu ku ungkapkan . Untuk waktu yang telah , sedang , atau akan kita lalui bersama . Terimakasih .

Sabtu, 22 Maret 2014

22314 0005

Sabtu , 22 Maret 2014
00.05

Tuhan , ini tak lagi hanya tentang cinta maupun hatiku . Logika dan otak ku mulai berfungsi sebagaimana mestinya . Cinta dan hati ini nampaknya masih sama , Tuhan . Masih membisikkan nama yang sama seperti hari sebelumnya . Tapi logika ku seakan tiba-tiba menunjukkan kenyataan yang ada . Meneriakkan pertanyaan-pertanyaan yang hanya terus bergema . Tak mampu kutemukan jawaban pastinya .

Aku terjebak , Tuhan . Bersama bias masalalu dan godaan menuju masadepan yang tampak masih kelabu . Aku terjebak , Tuhan . Di antara bisikan hati dan paksaan ego yang terus saling meneriaki . Aku terjebak , Tuhan . Sungguh tak ingin berdiam diri namun tak mampu melangkah sendiri .

Tuhan , akankah jalan mudah yang ku pilih kelak membawaku dalam duka tiada terperi ? Tuhan , akankah jalan sulit yang ku hadapi kelak hadirkan tawa dalam kebahagiaan abadi ? Tuhan , kurasa aku memang terjebak . Aku terhenti di persimpangan yang Kau tunjukkan padaku . Aku dilema menanti takdir yang Kau siapkan untukku di setiap ujung jalan berliku .

Rabu, 19 Maret 2014

Damn !

Rabu , 19 Maret 2014
15.02

Surat-surat lamaku yang terbengkalai akhirnya menemukan tujuannya . Tinggal selangkah lagi sebelum akhirnya surat-surat berdebu itu sampai ke pemilik sebenarnya . Jantungku berdebar terlalu keras hingga mampu ku dengar . Nafasku tersengal memberi tanda betapa terkejutnya aku . Airmata seakan ingin berloncatan keluar . Susah payah ku redakan amukan di hati .

Dia yang lama hilang , yang memang tak pernah mencariku kembali . Dia yang seharusnya sudah kulupakan , kutemukan dalam pencarian tak sengajaku . Bermula dari rasa penasaran , aku mencoba mencari jejaknya . Ingin memastikan dia memang benar nyata untuk kesekian kalinya .

Aku tersentak . Surat-surat lusuhku kini menemukan muaranya . Entah harus kumulai dari mana . Entah dia orang yang dulu ku kagumi atau bukan . Hanya dengan firasatku , ku yakin itu dia . Wajahku merona . Ingin ku ungkapkan rindu yang pernah tertimbun lama di hati . Ingin ku ucap salam sebagai tanda resminya perpisahan . Tapi untuk apa ? Rindu itu bahkan lama tak kurasakan lagi . Rindu itu kini telah menemukan muaranya yang lain . Untuk apa ku resmikan perpisahan jika kebersamaan saja tak pernah benar-benar terjalin .

Tapi egoku terus memaksa . Aku benar-benar ingin mengatakan aku melepasnya . Melepas semua asa , angan , mimpi , dan kenangan tentangnya . Aku ingin melepas rindu yang tertambat . Aku ingin mengucap perpisahan . Dengan begitu , semua sesak ini mungkin akan sirna . Semua luka ini mungkin akan menghilang . Dengan begitu mungkin tak kan ada lagi penyesalan dan harapan yang tersisa tentangnya .

Farewell (3)

Jumat , 2 Agustus 2013

Teruntuk Alfatihul Ihsan , yang tak lagi menyisakan rindu .

2 tahun yang lalu terasa sempurna dengan keberadaanmu di hatiku . 2 tahun yang lalu aku sempat merasa beruntung memilikimu . 2 tahun yang lalu juga rasanya hatiku hancur tak menentu . 2 tahun yang lalu embun menggoreskan luka , mengalirkan jejak darahnya . Butuh waktu setahun sejak perpisahan antara kamu dan aku untukku akhirnya melepasmu dari hatiku .

Tapi rindu itu masih selalu menyayatku , menyesakkan dadaku , mendebarkan jantungku . Dalam setahun menahan luka itu , tak henti aku mencari cara untuk mengetahui kabarmu . Ingin ku ingat perkataanmu dalam tidurku kala itu . Tapi semua yang bisa membuatku mengingatmu telah ku hapus tanpa sisa . Seakan tak ada lagi cara untukku mengenangmu .

Namamu masih sering ku sebut dalam setiap kisah penantianku . Tapi luka itu tak lagi terasa . Jantung ini tak lagi berdebar . Rindu ini seakan telah sirna . Akhirnya hatiku mampu menghapus namamu . Tak penting lagi kini kamu dengan siapa . Tak ingin peduli lagi bagaimana hatimu , harimu . Berbahagialah kamu disana tanpa aku yang berhenti mengenangmu . . .

Farewell (2)

Jumat , 2 Agustus 2013
11.41

Teruntuk Audhy Ellyas , yang tak lagi hiasi mimpiku .

Tak terasa sudah 5 tahun sejak terakhir percakapan kita . Waktu benar-benar nyaris menghapus semua jejak yang kamu dan aku sempat tinggalkan . Sungguh rasanya aku sudah melupakanmu . Lupa kalau sempat ada kisah tentang kamu dan aku dalam sejarah singkat masalalu ku . Jika bukan karena kehadiran dee , tampaknya ilusi tentangmu memang tak kan pernah hadir kembali .

Tak ada lagi perih yang terasa ketika aku mengenangmu . Yang tertinggal hanya senyum simpul tanda bahagia aku pernah mengenalmu . Kisah kita memang tak lama . Jejak kita memang tak banyak . Tapi dari cerita singkat kebersamaan kamu dan aku , sempat mengukir rindu yang mendalam . Menggores luka yang lama untuk terobati .

Tak pernah terbayangkan sebelumnya , aku mampu melupakanmu . Tapi waktu buktikan semua . Sekarang entah harus merasa bagaimana . Keberadaan dee di hatiku membuka kembali semua jejak antara kamu dan aku yang tertutup debu tak tersentuh .

Tak ingin aku menyakiti dee seperti aku melukaimu . Tak ingin pula aku kehilangan dee seperti aku ditinggalkanmu dulu . Jejak nostalgia antara kamu dan aku kini kubiarkan menjadi pelajaran indah untuk kisah baruku . Tak kan lagi kubiarkan embun melukiskan jejaknya ketika aku mengenangmu . Sudah cukup rasanya semua lukisan embun yang dulu kamu torehkan . Kini , hiduplah abadi dalam ingatanku , jangan lagi di hatiku .

Carilah kesempurnaan hidupmu . Titipkan salamku untuk Mama mu yang dulu menghacurkan anganku untuk mengejarmu . Katakan padanya , terimakasih dulu telah menghapus harapanku . . .